Preloader
  • By Publikasi

Fakultas Farmasi UNMAS Berdayakan Ibu PKK Desa Sibanggede melalui Inovasi Produk Daun Kelor

Badung, Bali – Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati (UNMAS) Denpasar melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui inovasi pangan fungsional berbasis daun kelor (Moringa oleifera L.) pada 2 Agustus 2026 di Kantor Desa Sibanggede, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung. Kegiatan ini melibatkan ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Sibanggede sebagai peserta utama.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat Melalui Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Kelor (Moringa oleifera L.) sebagai Upaya Pencegahan Stunting di Desa Sibanggede, Bali”yang dilaksanakan oleh Departemen Farmasi Bahan Alam, Fakultas Farmasi UNMAS Denpasar. Program dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam lokal, khususnya daun kelor, menjadi produk pangan bernilai tambah.

Ketua tim pengabdian, apt. Maria Malida Vernandes Sasadara, S.Farm., M.P, menjelaskan bahwa kegiatan tidak hanya diarahkan pada penyampaian informasi mengenai kandungan dan manfaat kelor, tetapi juga pada peningkatan kemampuan masyarakat untuk mengolahnya menjadi produk yang lebih menarik dan mudah dikonsumsi. “Melalui program ini, kami ingin masyarakat tidak hanya mengetahui bahwa daun kelor memiliki potensi sebagai bahan pangan bergizi, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi produk yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pemanfaatan pangan lokal seperti kelor diharapkan dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk meningkatkan keberagaman pangan dan mendukung pemenuhan gizi keluarga,” demikian paparan ketua tim pengabdian.

Pemanfaatan kelor dipilih karena tanaman ini mudah dibudidayakan di lingkungan tropis seperti Bali serta memiliki potensi sebagai sumber pangan lokal. Dalam rancangan program pengabdian, peningkatan literasi gizi dan keterampilan pengolahan kelor menjadi pangan bernilai tambah menjadi dua pendekatan utama untuk mendukung ketahanan gizi keluarga di Desa Sibanggede.

Salah satu bagian utama kegiatan adalah pelatihan praktik pengolahan daun kelor menjadi mi protein daun kelor. Peserta mendapatkan penjelasan mengenai pemilihan dan pengolahan bahan, formulasi produk, proses pembuatan, hingga cara menghasilkan produk berbasis kelor yang dapat diterima oleh keluarga, termasuk anak-anak.

Melalui praktik langsung tersebut, peserta dapat melihat bahwa kelor tidak harus dikonsumsi dalam bentuk sayuran sebagaimana umumnya dikenal masyarakat. Daun kelor dapat dikembangkan menjadi berbagai bentuk pangan yang lebih praktis dan menarik sehingga membuka peluang untuk meningkatkan variasi pemanfaatan pangan lokal dalam rumah tangga.

Pendekatan pelatihan ini sejalan dengan tujuan program untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah kelor menjadi produk bernilai tambah sekaligus memperkuat pemanfaatan bahan alam berbasis kearifan lokal. Dalam dokumen program, pemberdayaan melalui pelatihan pengolahan pangan fungsional juga menjadi salah satu solusi utama terhadap belum optimalnya pemanfaatan daun kelor di Desa Sibanggede.

Selain pelatihan praktik, tim pengabdian melakukan evaluasi melalui pretest dan posttest untuk mengukur perubahan pengetahuan peserta mengenai fungsi dan pemanfaatan daun kelor dalam produk pangan. Sebanyak 22 peserta mengikuti seluruh rangkaian evaluasi. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang sangat signifikan setelah peserta mengikuti kegiatan. Secara keseluruhan, tingkat jawaban benar pada pretest hanya sebesar 18,2%, kemudian meningkat menjadi 95,5% pada posttest. Dengan demikian, terjadi peningkatan sebesar sekitar 77,3 poin persentase setelah pemberian edukasi dan pelatihan. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kombinasi penyampaian materi dan praktik langsung pengolahan pangan berbasis kelor efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai manfaat serta potensi pemanfaatan daun kelor sebagai bahan pangan. Evaluasi pengetahuan melalui pretest dan posttest juga menjadi bagian dari pendekatan program untuk mengukur keberhasilan kegiatan edukasi kepada masyarakat.

Salah seorang peserta yang juga merupakan Wakil Ketua TP PKK Desa Sibang Gede, Ibu Fiftina Fourtuna Dewi, mengaku kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai cara memanfaatkan kelor dalam menu keluarga. “Sebelumnya kami lebih banyak mengenal daun kelor untuk dimasak sebagai sayur. Setelah mengikuti kegiatan ini, kami mengetahui bahwa kelor ternyata bisa diolah menjadi makanan yang lebih bervariasi, seperti mi. Praktiknya juga mudah dipahami sehingga kami tertarik untuk mencoba membuatnya kembali di rumah, terutama sebagai variasi makanan untuk keluarga,” ungkapnya.

Menurut tim pelaksana, keterlibatan ibu-ibu PKK memiliki peran penting karena keluarga merupakan salah satu lingkungan utama dalam menentukan pemilihan, pengolahan, dan penyediaan makanan sehari-hari. Peningkatan pengetahuan serta keterampilan pengolahan pangan lokal di tingkat keluarga diharapkan dapat mendorong penggunaan bahan pangan bergizi yang lebih beragam dan berkelanjutan.

Program pengabdian ini sekaligus menjadi implementasi tridarma perguruan tinggi dengan membawa pengetahuan di bidang Farmasi Bahan Alam secara langsung kepada masyarakat. Program juga menempatkan kelor sebagai sumber daya lokal yang dapat dikembangkan tidak hanya berdasarkan nilai gizinya, tetapi juga sebagai produk pangan inovatif yang memiliki potensi dikembangkan lebih lanjut oleh masyarakat. Pendekatan tersebut selaras dengan roadmap pengabdian Fakultas Farmasi UNMAS Denpasar dalam bidang edukasi, pendampingan, dan pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan bahan alam. Melalui kegiatan ini, Fakultas Farmasi UNMAS Denpasar berharap pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada saat pelatihan, tetapi dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat. Pengembangan mi protein daun kelor diharapkan menjadi contoh bahwa bahan pangan lokal yang sederhana dapat diolah secara kreatif menjadi produk yang lebih beragam, bernilai tambah, dan berpotensi mendukung peningkatan kualitas pangan keluarga di Desa Sibanggede.

Publikasi

previous post next post
frequently Asked Questions

Pertanyaan Fakultas Farmasi

beberapa pertanyaan yang sering diajukan seputar Fakultas Farmasi UNMAS Denpasar.

1. Prodi Sarjana Farmasi (S1 Farmasi).
Durasi : 4 tahun
2. Prodi Diploma 3 Farmasi (D3 Farmasi).
Durasi : 3 tahun

• Peneliti dan Pengembang Obat
• Asisten Apoteker
• Tenaga Farmasi di Rumah Sakit
• Staf Administrasi Farmasi
• Industri Farmasi (Produksi dan Quality Control)

PMKA (jalur Prestasi, Minat dan Kemampuan Akademik)
JPPA (Jalur Penelusuran Potensi Akademik)
JPANA (Jalur Prestasi Akademik dan Non Akademik)
Reguler

Untuk rincian biaya bisa kunjungi SPMB UNMAS

Yang dibayarkan 1 kali selama masa studi yaitu
Ganesha Maba & Pengembangan Institusi

Sosial Media

kami berbagi berbagai informasi terkait acara fakultas, prestasi mahasiswa, serta berita terkini yang relevan dengan bidang studi farmasi.

Info Kontak

© Fakultas Farmasi | Universitas Mahasaraswati Denpasar