Pecatu, Bali — Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali melalui edukasi mengenai pemanfaatan kelor (Moringa oleifera) sebagai salah satu sumber pangan lokal yang berpotensi mendukung kesehatan dan wellness masyarakat.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kandungan nutrisi, senyawa bioaktif, potensi manfaat kesehatan, serta cara pengolahan kelor yang tepat dan aman. Dalam kegiatan edukasi, masyarakat diperkenalkan pada berbagai kandungan kelor, antara lain protein, serat, vitamin, mineral, flavonoid, senyawa fenolik, serta glukosinolat/isotiosianat. Kandungan tersebut menjadikan kelor menarik untuk dikembangkan sebagai bahan pangan sekaligus bagian dari pendekatan wellness. Materi edukasi juga menekankan bahwa kandungan nutrisi dan senyawa bioaktif kelor dapat dipengaruhi oleh bagian tanaman, varietas, lokasi, umur panen, dan metode pengolahan.
Selain membahas kandungan dan potensi manfaatnya, masyarakat diberikan pemahaman mengenai pengolahan kelor secara tepat, mulai dari pemilihan bahan, pencucian, pengolahan, pengeringan, hingga penyimpanan. Kelor dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk, seperti daun segar sebagai bahan makanan, teh, bubuk kelor sebagai bahan tambahan makanan, maupun produk pangan yang memanfaatkan kelor sebagai bahan fortifikasi. Pengolahan yang tepat menjadi penting karena suhu, waktu, dan metode pengolahan dapat memengaruhi kandungan nutrisi, senyawa bioaktif, rasa, serta kualitas produk.
Dalam kegiatan ini, aspek penggunaan kelor secara bijak juga menjadi bagian penting dari edukasi. Masyarakat diingatkan bahwa potensi manfaat yang diperoleh dari penelitian tidak serta-merta berarti kelor terbukti dapat menyembuhkan penyakit. Bukti ilmiah perlu dipahami berdasarkan jenjangnya, mulai dari penelitian laboratorium, penelitian pada hewan, hingga penelitian pada manusia. Oleh karena itu, kelor diharapkan dimanfaatkan sebagai bagian dari pola makan sehat dan bukan sebagai pengganti obat atau terapi yang diresepkan oleh tenaga kesehatan.
Lebih jauh, edukasi ini memperkenalkan potensi kelor sebagai bagian dari pengembangan wellness dan health tourism berbasis masyarakat. Pemanfaatan kelor dapat dikembangkan tidak hanya melalui produk pangan, tetapi juga melalui pengalaman edukatif seperti mengenal dan memanen kelor, belajar mengolah bahan pangan lokal, memperoleh edukasi nutrisi, menikmati produk lokal, hingga mengembangkan wellness experience. Konsep tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam menciptakan nilai tambah dari potensi lokal.
Melalui kegiatan pengabdian ini, Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar berupaya menghubungkan ilmu pengetahuan dengan potensi sumber daya lokal. Kelor yang selama ini dekat dengan kehidupan masyarakat diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal melalui pengetahuan yang tepat, pengolahan yang aman, serta pemanfaatan yang bertanggung jawab.
Kenali Kelor. Olah dengan Tepat. Manfaatkan dengan Bijak.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pemberdayaan masyarakat, peningkatan literasi kesehatan, pemanfaatan bahan alam lokal, serta pengembangan potensi wellness dan pariwisata berkelanjutan di Bali.